Debat Capres: IHSG-Rupiah Menunggu Efek Ganjar-Anies-Prabowo

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan Tanah Air masih mengakhiri perdagangan di zona merah kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi, rupiah merana melawan dolar Amerika Serikat (AS). Begitu pula pada Surat Berharga Negara (SBN) yang terpantau kembali dibuang investor.

Pasar keuangan hari ini nampaknya masih akan bergejolak. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sepanjang perdagangan kemarin, Senin (11/12/2023) terpantau anjlok nyaris 1% ke posisi 7088,78. Koreksi kemarin membuat IHSG mengakhiri tren penguatan dua hari beruntun dan jatuh ke bawah level psikologis 7100.

Koreksi IHSG kemarin sejalan dengan aliran asing yang terpantau keluar bersih sebanyak Rp 627,35 miliar di seluruh pasar. Saham yang paling banyak dibuang asing adalah saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebanyak Rp615,3 miliar, kemudian ada saham banking big caps yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), keduanya masing-masing dijual bersih asing sebanyak Rp175,4 miliar dan Rp78,6 miliar.

Mengikutkan investor asing dan lokal, ada sejumlah saham yang terkait taipan Prajogo Pangestu juga turut menyeret IHSG menyusut. Diantaranya saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang anjlok 5,59%, kemudian saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) masing-masing turun 2% dan 0,93%.

Menilai posisi IHSG pada pekan lalu yang sudah menguat signifikan dan mendekati posisi tertinggi tahun ini di sekitar 7200. Tak heran, apabila pada hari ini ada respon koreksi sejumlah saham akibat aksi taking profit investor.

Selain karena aksi profit taking, sentimen dari lesunya ekonomi China turut mempengaruhi gerak pasar keuangan Tanah Air. Sebelumnya, pada Sabtu (9/12/2023) Tiongkok merilis data Consumer Price Index (CPI) yang tercatat kembali mengalami deflasi 0,5% (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yakni deflasi 0,2% yoy.

Penurunan tersebut merupakan penurunan inflasi tercepat sejak November 2020, seiring dengan penurunan harga pangan pada laju terkuat dalam dua tahun terakhir (-4,2% vs -4,0% di bulan Oktober) di tengah penurunan harga daging babi yang lebih lanjut.

Deflasi China menjadi kabar negatif bagi pasar keuangan Tanah Air karena posisi Tiongkok sebagai Sang Naga Asia sekaligus mitra dagang terbesar RI akan menyebabkan efek domino terhadap perdagangan ekspor-impor.

Kekhawatiran adanya efek domino terhadap perdagangan RI, semakin direspon pasar yang tercermin pada pergerakan rupiah yang terpantau melemah. Melansir data Refinitiv, pada sepanjang perdagangan kemarin, nilai tukar rupiah bahkan ambles cukup dalam hingga 0,68% ke posisi Rp15.610/US$. Pelemahan tersebut menjadikan mata uang Garuda berada pada posisi yang terlemah sejak 7 November 2023 atau sekitar satu bulan lebih.

Pelemahan rupiah juga disinyalir akibat kabar buruk dari AS terkait data pekerjaan selain sektor pertanian AS pada November 2023 mencatat peningkatan tidak terduga sebanyak 199.000 pekerjaan.

Nilai tersebut melampaui penambahan 150.000 pekerjaan pada bulan Oktober dan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 180.000 pekerjaan.

Lebih lanjut, tingkat pengangguran turun menjadi 3,7%, dibandingkan dengan perkiraan sebesar 3,9%, seiring dengan tingkat partisipasi angkatan kerja yang meningkat menjadi 62,8%.

Menurunnya laju pengangguran AS disertai masih banyaknya pekerjaan yang tercatat berpotensi membuat inflasi sulit turun ke target bank sentral AS, The Federal Reserve di 2%.

Ketika hal ini terjadi, maka pelaku pasar menjadi lebih khawatir tren suku bunga tinggi masih akan berlangsung lebih lama yang bisa semakin menjauhkan prospek pivot yang diharapkan bisa terjadi pada kuartal II/2024.

Beberapa data kondisi pasar tenaga kerja pada November yang tak terduga memanas kembali tersebut membuat penguatan indeks dolar AS (DXY) serta imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang meningkat.

Meningkatnya DXY dan imbal hasil obligasi acuan AS juga membuat tekanan terhadap Surat Berharga Negara (SBN). Diketahui, pada penutupan perdagangan kemarin, imbal hasil obligasi 10 tahunan Indonesia naik sekitar 2 basis poin (bps) ke posisi 6,60%. Kenaikan ini membuat yield SBN acuan menempati posisi tertinggi sejak awal bulan Desember.

Perlu dicatat, pada pasar obligasi hubungan yield dengan harga berbanding terbalik, sehingga penguatan pada yield yang terjadi kemarin menunjukkan harga obligasi yang turun. Hal tersebut berarti investor terpantau membuang SBN. https://gunakanlah.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*